Matematika
Persamaan Linear Satu Variabel
Pertemuan 6
Elemen Aljabar
Media/alat peraga: Laptob dan LCD
Capaian Pembelajaran
Mengenali, memprediksi dan menggeneralisasi pola dalam bentuk susunan benda dan bilangan; Menyatakan suatu situasi ke dalam bentuk aljabar; menggunakan sifat-sifat operasi (komutatif, asosiatif, dan distributif) untuk menghasilkan bentuk aljabar yang ekuivalen. Murid dapat memahami relasi dan fungsi (domain, kodomain, range) serta menyajikannya dalam bentuk diagram panah, tabel, himpunan pasangan berurutan, dan grafik; membedakan beberapa fungsi non linear dari fungsi linear secara grafik; menyelesaikan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel; menyajikan, menganalisis, dan menyelesaikan masalah dengan menggunakan relasi, fungsi dan persamaan linear; serta menyelesaikan sistem persaman linear dua variabel melalui beberapa cara untuk penyelesaian masalah.
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat menyelesaikan pertidaksamaan linear satu variabel
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah hari ini dapat bertemu bersama untuk belajar matematika.
Selalu jaga kesehatan dan beribadah kepada Alloh SWT. Semoga selalu istiqomah dalam melaksanakan sholat dhuha dan sholat lima waktu.
Ayo simak materi berikut!
Pertidaksamaan Linear Satu Variabel (PtLSV)
Pengertian
Pertidaksamaan
linear satu variabel adalah pertidaksamaan yang hanya memuat satu variabel
saya, misalnya variabel x. Jika suatu persamaan ditandai dengan
sama dengan “=”, maka pertidaksamaan ditandai dengan “<”, “>”, “≤”, “≥”.
Pernyataan berikut ini merupakan contoh penerapan pertidaksamaan linear satu
variabel.
|
Tanda Ketidaksamaan |
Dibaca atau Diartikan |
|
> |
Lebih besar dari |
|
≥ |
Lebih besar sama dengan |
|
< |
Lebih kecil dari |
|
≤ |
Lebih kecil sama dengan |
Bentuk Umum
Pertidaksamaan linear satu variabel memiliki bentuk umum
seperti berikut.
ax + b < c
dengan
tanda pertidaksamaan menyesuaikan, misalnya “<”, “>”, “≤” atau “≥”
Keterangan:
a =
koefisien x;
x =
variabel; dan
b, c =
konstanta.
Sifat-Sifat:
1.
Tanda Pertidaksamaan Tidak Berubah pada Operasi Penjumlahan dan Pengurangan
Untuk menyelesaikan SPtLSV, terkadang kamu harus melakukan operasi
penjumlahan atau pengurangan pada kedua ruas yang memiliki suku sama. Nah,
operasi penjumlahan dan pengurangan, tidak akan mengubah tanda pertidaksamaan.
Contoh:
x – 2 < 6 (kedua ruas sama-sama ditambah 2)
x – 2 + 2 < 6 + 2
x < 8
Sehingga, didapat nilai x < 8.
2.
Tanda Pertidaksamaan Tidak Berubah pada Operasi Perkalian Positif
Sama halnya dengan operasi penjumlahan dan pengurangan, jika kedua ruas
sama-sama dilakukan operasi perkalian positif, hal ini tidak akan mengubah
tanda pertidaksamaan. Supaya kamu lebih paham, coba perhatikan contoh di bawah
ini, deh:
2x + 4 > 6
Untuk menyelesaikan pertidaksamaan di atas, pertama-tama, kurangkan
kedua ruas dengan -4.
2x + 4 – 4 > 6 – 4
2x > 2
Selanjutnya, kalikan kedua ruas dengan ½.
2x · ½ > 2 · ½
x > 1
Sehingga, didapat nilai x > 1.
3.
Tanda Pertidaksamaan Berubah pada Operasi Perkalian Negatif
Nah, kalo kedua ruas dikalikan dengan bilangan negatif, maka ini akan
menggantikan tanda pertidaksamaan, guys. Misalnya,
dari yang awalnya <, berubah menjadi >, begitu juga sebaliknya. Kemudian,
dari yang awalnya ≥, berubah menjadi ≤, begitu juga sebaliknya. Contoh:
-2x + 2 ≥ 0 (pertama-tama, kedua ruas sama-sama
dikurangi 2)
-2x + 2 – 2 ≥ 0 – 2
-2x ≥ -2 (kemudian, kedua ruas sama-sama dikali -½)
-2x · -½ ≤ -2 · -½
(karena kedua ruas dikali bilangan negatif, maka tanda pertidaksamaannya
berubah/dibalik)
x ≤ 1
Sehingga, didapat nilai x ≤ 1.
Simak video berikut
https://www.youtube.com/watch?v=9cYlHp9T21Q&t=4s
Ayo berlatih!
2. Tentukan hasil dari pertidaksamaan 4a + 12 < a + 36!
Matematika Kelas IX
Transformasi Geometri
Pertemuan 12
Elemen Geometri
Media/alat peraga: Laptob dan LCD
Capaian Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran
Peserta didik dapat melakukan transformasi tunggal dilatasi
Assalamualaikum Wr. Wb.
Selalu jaga kesehatan dan beribadah kepada Alloh SWT. Semoga selalu istiqomah dalam melaksanakan sholat dhuha dan sholat lima waktu.
Rotasi
Secara umum, rotasi suatu titik dibagi menjadi dua, yakni rotasi terhadap titik pusat (0,0) dan rotasi terhadap titik (a,b).
|
Titik Asal |
Rotasi |
Titik Bayangan |
|
(x,y) |
(0,90°) |
(-y,x) |
|
(x,y) |
(0,-90°) |
(y,-x) |
|
(x,y) |
(0,180°) |
(-x,-y) |
|
(x,y) |
(0,-180°) |
(-x,-y) |
|
(x,y) |
(0,270°) |
(y,-x) |
|
(x,y) |
(0,-270°) |
(-y,x) |
Dilatasi
Rumus dilatasi tititk P (x, y) dengan titik pusat O(0, 0) dan faktor skala K.
P(x, y) = P'(Kx, Ky)
Rumus dilatasi tititk P (x, y) dengan titik pusat (a, b) dan faktor skala K.
1.
Gambarkan bangun dan bayangannya Segitiga ABC dengan A
(6,4), B (−3,1), dan C (2,−2) didilatasi
dengan pusat (−2,3) dan faktor
skala 4. Koordinat
bayangan △ABC adalah …
2.
Gambar
masing-masing bangun berikut dan bayangannya terhadap refleksi yang diberikan. ΔΟΡΟ
dengan titik sudutnya di O (-2, 1), P (0, 3), dan Q (2, 2) terhadap garis y=-x.
3.
Gambarkan bangun dan koordinat bayangan ∆ABC dengan A(1, -2), B(4, 1),
dan C(2, 3) oleh translasi (pergeseran) sejauh 4 satuan ke kiri dan 2 satuan ke
atas.
4.
Diketahui segitiga RST dengan koordinat titik sudut di R (3,6), S (-5,
2) dan T(3,-3). Gambarkan bangun dan bayangan hasil transformasinya jika
diketahui segitiga tersebut dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam yang
berpusat di titik asal kemudian didilatasi dengan faktor skala 2 berpusat di
titik asal.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar